Kebermanfaatan Matematika: Berkat dan Kutukan

Lebih dari 4 abad yang lalu, Galileo menyatakan bahwa filsafat atau ilmu pengetahuan bersumber dari sebuah buku adiagung, yaitu semesta ini.  Lalu ada Max Tegmark, salah satu pakar fisika, yang melanjutkan dan malah mengembangkan gagasan radikal Galileo itu.  Tegmark berpendapat bahwa semesta ini memang sebuah matematika, atau tepatnya sebuah struktur matematika. Maksudnya, Matematika dengan luar biasa tepatnya menjelaskan fenomena alam semesta ini.

Hal ini terkesan menakutkan: matematika tampak semakin merasuk ke dalam berbagai aspek kehidupan kita. Hal yang menakutkan tentu menimbulkan ketakutan pada orang awam. Matematika dipandang negatif, mekanistis, dingin, prosedural, tanpa melibatkan rasa, dan hanya dipandang aspek kebermanfaatannya saja. Belum lagi dengan adanya alasan mempelajari Matematika karena ‘akan diujikan di UN’: siswa belajar Matematika hanya karena wajib, bukan karena dorongan ketertarikan alami dari siswa terhadap Matematika. Hal-hal tersebut membuat gambaran orang tentang Matematika semakin mengabur.

Pak Iwan Pranoto sang penulis menguraikan satu-persatu dengan apik, bagaimana mestinya kita memandang Matematika. Mulai dari definisi Matematika di KBBI sebagai kata benda  yang sudah tidak benar-benar sesuai untuk masa sekarang, hingga rasa berakal yang semestinya dialami ketika memahami keindahan matematika, dalam tulisan ini.