Arsip Kategori: Sains

Matematika dan Budaya Bermatematika

Apa itu matematika? Pertanyaan itu tidak kurang-kurangnya ditanyakan pelajar yang sedang mempelajarinya, orangtua atau pembimbing siswa atau mahasiswa yang sedang mengajarkannya, para filsuf, dan juga para matematikawan sendiri.

Dan jawaban yang anda peroleh tidak akan pernah sama persis.

Kali ini, Pak Hendra Gunawan salah seorang penggagas blog Bersains yang akan menyampaikan pemikirannya, “Apa itu Matematika?” Apakah  matematika bisa disebut sebagai ‘ilmu’? Ataukah matematika sesuatu yang lebih mendasar dari itu, misalnya ‘bahasa’ yang digunakan ilmu pengetahuan?

Mari  kita simak uraian pemikian beliau di artikel Bersains edisi Mei 2017 kali ini, yang merupakan naskah kuliah inaugurasi Pak Hendra Gunawan sebagai anggota baru Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia. Selamat kepada Pak Hendra. Semoga terus produktif berkarya dan terus memberikan sumbangsih membanggakan bagi ilmu pengetahuan di Indonesia.

Baca lebih lanjut di sini.

Nuklir Untuk Senjata

Iran, Israel, Amerika Serikat, dan Korea Utara punya persamaan: mereka saling berseteru soal nuklir. Lebih spesifiknya lagi, nuklir yang digunakan untuk senjata perang.

Iran dan Korea Utara telah mampu membuat rudal jarak jauh yang dipasang hulu-perang nuklir (nuclear warhead). Sementara Iran telah meningkatkan kemampuannya melalui pengayaan uranium dengan teknologi emparan (centrifuge), Korea Utara dengan pengayaan uranium di Nyonbyon maupun pembiakan plutonium-239 di fasilitas nuklir Yongbyon.

Tulisan Bersains edisi Juli 2016 kali ini tidak akan membahas kisruh nuklir antar 4 negara di atas. Membahas sains nuklir, itu  baru menarik. Apalagi menurut penulisnya, L. Wilardjo, Iran dan Korea Utara diduga belum menguasai teknologi pengayaan uranium dengan teralan tiga-tahap (three-stage excitation). Suatu teknologi nuklir yang (masih) sulit, walaupun prinsip ilmiahnya sudah diketahui.

Baca selengkapnya di sini. Tak lupa pula, anda akan mendapatkan sejarah mengenai asal mula ‘atom untuk perang’ di tulisan ini. Selamat menikmati!

Reaktor Termal

Listrik yang kita gunakan setiap hari tidak datang begitu saja. Sebelum didistribusikan ke pengguna, listrik harus melalui proses pengadaan atau dibangkitkan terlebih dulu. Salah satu metode pembangkitan listrik yang digunakan adalah dengan tenaga nuklir.

Pada artikel Bersains kali ini, L.Wilardjo akan membahas proses pembangkitan listrik dalam reaktor nuklir. Lebih spesifiknya lagi, artikel ini akan membahas reaktor termal, yang merupakan jantung dari Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir. Setelah selesai menelaah artikel ini, bisa jadi anda akan mendapat bayangan, seberapa dahsyat potensi energi yang diperoleh dari reaksi nuklir, dan juga potensi destruksi yang dihasilkannya.

Baca selengkapnya di sini.

Unsur Tanah Jarang Nan Berlimpah

Apakah anda pernah mendengar ‘unsur tanah jarang’ atau Rare Earth Element (REE)? Ahli kimia dari Rusia bernama Dmitri Mendeleev, pada tahun 1800-an telah memprediksi adanya unsur tanah jarang dalam tabel periodik kimia buatannya. Waktu itu, unsur tanah jarang belum ditemukan, namun keberadaannya telah diperkirakan oleh Mendeleev.  Meski namanya unsur tanah yang ‘jarang’, ternyata keberadaannya di permukan bumi sebenarnya berlimpah.

Pada artikel blog Bersains edisi September 2015 kali ini, Andy Yahya Al Hakim membahas mengenai unsur tanah jarang, juga unsur grup platinum (PGE, Platinum Group Element), dan kemajuan Indonesia dalam teknologi  nuklir yang dilakukan oleh Badan Teknologi Nuklir Nasional (BATAN). Bahkan pada 15 September 2015, Indonesia mendapatkan apresiasi dari International Atomic Energy Agency (IAEA).
Baca selengkapnya di sini.

Nobel Fisika Berkat Sigupa

Mungkin beberapa pembaca masih ingat tentang Sigupa atau Situs Gunung Padang yang diberitakan akhir tahun lalu. Sigupa merupakan situs  bersejarah berbentuk piramida yang umurnya diperkirakan: 1) 2500 tahun, atau 2) 7200 tahun lebih.  Selain umurnya yang masih diteliti, ada kontroversi lain yang melingkupi Sigupa hingga saat ini.

Namun tulisan L. Wilardjo kali ini tidak akan berlarut-larut melanjutkan pembahasan mengenai kontroversi Sigupa. Pada kesempatan kali ini, penulis menelaah pedumuran karbon yang digunakan dalam menentukan umur Sigupa dan ‘benda batu berserat yang memiliki ekakutub magnetik’ yang diperkirakan asli berasal dari situs tersebut. Kita akan menelusuri pertanyaan dan analisis dari dua hal yang ditelaah tadi, yang salah satunya berpotensi memberikan Nobel Fisika bagi ilmuwan Indonesia, jika terbukti benar.

Baca tulisan lengkapnya di sini.