Arsip Kategori: Sejarah

Matematika dan Budaya Bermatematika

Apa itu matematika? Pertanyaan itu tidak kurang-kurangnya ditanyakan pelajar yang sedang mempelajarinya, orangtua atau pembimbing siswa atau mahasiswa yang sedang mengajarkannya, para filsuf, dan juga para matematikawan sendiri.

Dan jawaban yang anda peroleh tidak akan pernah sama persis.

Kali ini, Pak Hendra Gunawan salah seorang penggagas blog Bersains yang akan menyampaikan pemikirannya, “Apa itu Matematika?” Apakah  matematika bisa disebut sebagai ‘ilmu’? Ataukah matematika sesuatu yang lebih mendasar dari itu, misalnya ‘bahasa’ yang digunakan ilmu pengetahuan?

Mari  kita simak uraian pemikian beliau di artikel Bersains edisi Mei 2017 kali ini, yang merupakan naskah kuliah inaugurasi Pak Hendra Gunawan sebagai anggota baru Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia. Selamat kepada Pak Hendra. Semoga terus produktif berkarya dan terus memberikan sumbangsih membanggakan bagi ilmu pengetahuan di Indonesia.

Baca lebih lanjut di sini.

Iklan

Numismatika Sengkala Memet

Numismatika. Kata ini berasal dari bahasa latin ‘numismatis’ yang artinya ‘segala sesuatu yang terkait dengan koin’. Karena Numismatika ini merupakan pengetahuan yang jarang diketahui di Indonesia, secara sekilas orang akan berpikir (dan mengaitkannya) dengan Matematika atau aktivitas memasak. Padahal tidak ada hubungannya.

Apa sebenarnya ‘numismatika’ itu? Numismatika adalah ilmu yang mempelajari mata uang koin atau kertas, dan juga benda-benda yang terkait dengan mata uang atau dapat berfungsi sebagai mata uang. Jadi kerang, biji coklat, selain logam mulia dan batuan berharga, juga dapat berfungsi sebagai alat tukar. Lalu apa arti ‘sengkala memet’? Sengkala atau sengkalan adalah deretan kata berupa kalimat atau bukan kalimat yang mengandung angka tahun, dan disusun dengan menyebut lebih dahulu angka satuan, puluhan, ratusan, kemudian ribuan. Kemudian sengkala memet sengkala yang menggunakan lukisan.

Dalam tulisan Bersains edisi Maret 2017 ini, kita akan menelusuri  kajian numismatika mata uang Nusantara yang diramu oleh Agung Prabowo dan Sukono dan kaitannya dengan sengkala memet. Suatu kajian menarik, karena kita akan melihat sejarah Nusantara yang tidak melulu dari sisi dinamika manusianya. Oleh karena itu, mari kita simak tulisan lengkapnya di sini.

Eksotisme Wayang Bébér Sengkala

Anda suka surabi? Tahukah Anda bahwa surabi sudah dikonsumsi prajurit Mataram pada peperangan tahun 1628-29? Sebuah karya seni yang juga mengawetkan memori tentang surabi dalam bentuk penyandian hadir sedikit lebih lambat, tepatnya tahun 1614 Jawa atau 1692 M. Sebagian duplikat dari karya tersebut dapat ditemukan di Sanggaluri, sebuah taman wisata dan edukasi yang asri di Kabupaten Purbalingga. Karya tersebut melukiskan bagian dari jagong (adegan) dalam wayang bébér lakon Jaka Kembang Kuning (JKK). Adegan-adegan yang ada di Sanggaluri mungkin merupakan hasil tedhak sungging (tiru ulang) dari gambar wayang bébér yang asli dari Pacitan. Sekilas tidak ada yang aneh dengan gambar pada karya tersebut. Tetapi, dengan mengikuti alur cerita selanjutnya, akan ada kehangatan lain yang segera saja menjadi sangat menarik untuk dicermati. Termasuk dari segi penyandian. Ya, matematika persandian. Persandian yang hanya dikenal di kawasan Asia Tenggara dan India dalam bentuk sengkala atau word chronogram, warisan kuno yang masih terus lestari hingga kini. Itulah sebabnya, mengapa surabi diangkat sebagai judul tulisan ini. Baca selengkapnya di sini.

 

Menalar Pasunda Bubat

Artikel Bersains edisi Juni 2016 kali ini akan membahas sejarah. Lebih spesifiknya lagi, sejarah seputar Pasunda Bubat. Tokoh-tokoh yang terlibat adalah mereka dari kerajaan Majapahit dan kerajaan Sunda. Namun penulis artikel ini tidak sekedar menuliskan alur sejarah, namun juga menelaah kitab sumber dari sejarah itu sendiri, diantaranya Pararaton.  Lebih jauh lagi, penulis mempertanyakan jeda antara insiden sejarah Pasunda Bubat (abad ke-14) dengan penulisan kitab Pararaton sendiri yang 2,5 abad (256 tahun setelah insiden Pasunda Bubat). Apakah penulisan kitab tersebut benar-benar didasari oleh motif pengekalan sejarah atau karena adanya VOC dengan kepentingannya yang sangat besar di Nusantara pada abad ke-16 dan mendapatkan perlawanan kuat di pulau Jawa saja, sehingga merasa perlu melakukan intervensi pada sejarah agar ‘orang Jawa’ dan ‘orang Sunda’ tidak bersatu?

Simak tulisan lengkapnya di sini.