Mari Merayakan Nalar

Manusia modern yang dianggap terlatih berpikir dan memilik alat berpikir yang canggih, ternyata tidak kebal dari bias perspektif dan sesat bernalar. Mengapa? ‘Keriuhan’ dunia modern dengan berbagai perkara kehidupannya, ditambah dengan kehebohan media massa dan media sosial, membuat manusia modern sibuk. Salah satu perkara kehidupan yang menjadi fokus utama manusia modern adalah ekonomi. Fokus manusia modern pada ekonomi itu pun diliputi oleh ‘kabut’ berupa ‘ilusi keberlimpahan’ dan ‘ilusi kelangkaan’.

Galih Prasetya Utama sang penulis mencoba membedah ilusi yang dialami manusia modern ini dalam ‘Mari Merayakan Nalar’. Ketika ekonomi yang melulu menjadi fokus, manusia modern tampaknya luput dari menyadari bahwa hasrat tak kunjung habis yang mendorong perilaku ekonomi untuk terus mengonsumsi dan berproduksi, terbentur dengan kenyataan bahwa kemampuan ekosistem Bumi tempat manusia bernaung terbatas.  Penulis juga mengajak pembaca untuk melakukan refleksi terhadap bias perspektif tentang ekonomi-ekologi-ekosistem yang jarang disadari manusia modern, namun nyatanya mengubah keseimbangan ekosistem Bumi. Simak tulisan lengkapnya di sini.

Iklan

Digital Watermarking: A Picture Can Hide a Thousand Words

Ketika berbicara tentang watermark, yang terpikir oleh sebagian orang adalah ‘gambar air’ yang lumrah ada di lembaran uang kertas. Namun yang dibahas sang penulis secara detail kali ini adalah digital watermarking yang biasa ditemui dalam gambar atau citra dijital (image). Aspek yang menarik dari tulisan Iwan Setyawan ini adalah kesederhanaannya dalam menguraikan digital watermarking yang sesungguhnya cukup rumit (bahkan ada penjelasan tentang rumusan dalam rekayasa digital watermarking). Digital watermarking ini sangat bermanfaat terutama sekali dalam kaitannya dengan hak cipta dari sebuah gambar dijital. Ingin tahu lebih lanjut? Silahkan baca tulisan lengkapnya di sini.

Catatan Kecil tentang Burung

Ketika sang penulis artikel ini mengatakan bahwa Matematika memiliki hubungan yang erat dengan puisi, bahkan lebih erat dari hubungan manusia dengan benaknya sendiri, sebagian besar orang akan mengerutkan kening. “Matematika dengan simbol-simbol asingnya, sangat membingungkan untuk dibaca,  dan memiliki kerumitan tingkat tinggi, mana mungkin berhubungan erat dengan puisi yang bernilai sastra, lebih mudah dibaca, dan bisa sangat menyentuh kalbu?”

Bahkan beberapa penyair terkenal seperti John Keats dan Edgar Allan Poe tampaknya belum mampu melihat hubungan erat itu, ujar penulis, Nirwan Ahmad Arsuka. Lewat “Catatan Kecil tentang Burung”, penulis membawa kita membedah klaim dari pandangan yang menyatakan bahwa sastra dan matematika tidak setara (bahkan sastra dipandang lebih unggul dari matematika), lalu membawa kita ke masa-masa awal pertumbuhan Matematika di Mesopotamia Kuno  hingga Arab pada abad ke-14, memperkenalkan kita pada berbagai tokoh-tokoh besar Matematika modern misalnya Cantor, Poincare, dan Turing, sambil menarasikan dinamika sejarah dari ide tentang Universalitas Matematika.

Baca selengkapnya di sini.

Protes Kuda Nil

Anda mungkin masih ingat dalil Pythagoras. Anda pasti tahu siapa Einstein. Apakah anda juga pernah mendengar nama de Broglie? Ada apa dengan ketiga nama ini? Dalam artikel ini, L. Wilardjo menulis suatu keterkaitan di antara karya Pythagoras, Einstein, dan de Broglie. Baca selengkapnya: PROTES KUDA NIL.

%d blogger menyukai ini: