Arsip Tag: Archimedes

Archimedes dan Taksiran Bilangan Pi

Archimedes terkenal karena banyak hal. Salah satu yang paling terkenal dari Archimedes adalah moment of epiphany yang dialaminya ketika sedang berendam di bak mandi, saat diberi tugas oleh Raja Hieron untuk menghitung proporsi emas dan perak dalam mahkota raja. Eureka! Kata itu sangatlah legendaris, bukan?

Namun ada hal menarik lainnya yang melekat pada Archimedes: rumus luas lingkaran. Beberapa ilmuwan sebelum Archimedes sudah mengetahui bahwa luas lingkaran sebanding dengan kuadrat dari diameternya. Archimedes berhasil membuktikan bahwa luas lingkaran sama dengan setengah keliling kali jari-jarinya. Namun berapa nilai konstanta perbandingan antara luas lingkaran dan kuadrat diameternya, itulah yang belum diketahui. Setelah ulik sana-sini, ia menemukan bahwa konstanta perbandingan tadi kira-kira senilai dengan 22/7, yang pada tahun 1706 William Jones memberinya lambang π (pi).

Mengetahui nilai π = 22/7 = 3.14 saja ternyata tidak cukup. Para ilmuwan dibuat penasaran dengan angka desimal di belakang koma yang menjadi kelanjutan dari  ‘.14’ di bilangan π. Dengan berbagai pendekatan, beberapa ilmuwan mendapatkan 3.1416 untuk π. Lainnya lebih teliti, yaitu π = 3.1415929. Kemudian berkembang hingga ketelitian puluhan angka di belakang koma. Perlombaan mencari angka di belakang koma dari bilangan π terus berlangsung, hingga yang ditemukan dengan presisi kini telah mencapai rekor 12.1 triliun angka di belakang koma (berdasarkan data terbaru tahun 2013).

Baca kisah lengkapnya di sini. Oh ya, sadarkah anda, bahwa hari ini adalah 22 Juli (22/7)? 😉

Catatan Kecil tentang Burung

Ketika sang penulis artikel ini mengatakan bahwa Matematika memiliki hubungan yang erat dengan puisi, bahkan lebih erat dari hubungan manusia dengan benaknya sendiri, sebagian besar orang akan mengerutkan kening. “Matematika dengan simbol-simbol asingnya, sangat membingungkan untuk dibaca,  dan memiliki kerumitan tingkat tinggi, mana mungkin berhubungan erat dengan puisi yang bernilai sastra, lebih mudah dibaca, dan bisa sangat menyentuh kalbu?”

Bahkan beberapa penyair terkenal seperti John Keats dan Edgar Allan Poe tampaknya belum mampu melihat hubungan erat itu, ujar penulis, Nirwan Ahmad Arsuka. Lewat “Catatan Kecil tentang Burung”, penulis membawa kita membedah klaim dari pandangan yang menyatakan bahwa sastra dan matematika tidak setara (bahkan sastra dipandang lebih unggul dari matematika), lalu membawa kita ke masa-masa awal pertumbuhan Matematika di Mesopotamia Kuno  hingga Arab pada abad ke-14, memperkenalkan kita pada berbagai tokoh-tokoh besar Matematika modern misalnya Cantor, Poincare, dan Turing, sambil menarasikan dinamika sejarah dari ide tentang Universalitas Matematika.

Baca selengkapnya di sini.