Arsip Tag: Isaac Newton

Kisah Kosmik: Mengapa Kita Memerlukannya

Ketika termenung dan memandang langit malam yang cerah, terkadang perasaan yang muncul adalah perasaan takjub, kecil, bahkan rasa takut. Luasan langit dengan berbagai objeknya memang menimbulkan perasaan-perasaan demikian. Dan tak hanya manusia modern termasuk diri kita, nenek moyang kita pun terhinggapi perasaan-perasaan tersebut. Nenek moyang kita telah mencoba menafsirkan asal usul, tujuan, dan nasib alam semesta pada akhirnya, serta bagaimana kedudukan manusia di tengah-tengah seluruh alam semesta ini. Dengan keterbatasan pengetahuan  dan pemahaman mereka saat itu, yang dihasilkan adalah berbagai spekulasi tentang alam semesta.

Berbagai bangsa besar dan unik di masa lalu seperti bangsa Babilonia, Maya, Hindu, Aztec, dan lainnya, pernah membangun berbagai mitologi kisah penciptaan alam semesta versi mereka. Kisah kosmik, singkatnya. Dalam artikel perdana Bersains di tahun 2016 ini, kita akan telaah runtutan sejarah kisah kosmik manusia masa lalu hingga modern, yang disusun oleh Gunawan Admiranto, salah satu peneliti di LAPAN. (Lanjutkan membaca)

Iklan

Archimedes dan Taksiran Bilangan Pi

Archimedes terkenal karena banyak hal. Salah satu yang paling terkenal dari Archimedes adalah moment of epiphany yang dialaminya ketika sedang berendam di bak mandi, saat diberi tugas oleh Raja Hieron untuk menghitung proporsi emas dan perak dalam mahkota raja. Eureka! Kata itu sangatlah legendaris, bukan?

Namun ada hal menarik lainnya yang melekat pada Archimedes: rumus luas lingkaran. Beberapa ilmuwan sebelum Archimedes sudah mengetahui bahwa luas lingkaran sebanding dengan kuadrat dari diameternya. Archimedes berhasil membuktikan bahwa luas lingkaran sama dengan setengah keliling kali jari-jarinya. Namun berapa nilai konstanta perbandingan antara luas lingkaran dan kuadrat diameternya, itulah yang belum diketahui. Setelah ulik sana-sini, ia menemukan bahwa konstanta perbandingan tadi kira-kira senilai dengan 22/7, yang pada tahun 1706 William Jones memberinya lambang π (pi).

Mengetahui nilai π = 22/7 = 3.14 saja ternyata tidak cukup. Para ilmuwan dibuat penasaran dengan angka desimal di belakang koma yang menjadi kelanjutan dari  ‘.14’ di bilangan π. Dengan berbagai pendekatan, beberapa ilmuwan mendapatkan 3.1416 untuk π. Lainnya lebih teliti, yaitu π = 3.1415929. Kemudian berkembang hingga ketelitian puluhan angka di belakang koma. Perlombaan mencari angka di belakang koma dari bilangan π terus berlangsung, hingga yang ditemukan dengan presisi kini telah mencapai rekor 12.1 triliun angka di belakang koma (berdasarkan data terbaru tahun 2013).

Baca kisah lengkapnya di sini. Oh ya, sadarkah anda, bahwa hari ini adalah 22 Juli (22/7)? 😉

Penjahit Bego

Jika anda mengira hanya dunia politik saja yang penuh intrik, seteru, dan sengketa ada baiknya anda menyetop perkiraan itu sejenak dan menelaah tulisan dari L. Wilardjo pada Bersains edisi Juni 2015 kali ini. Siapa yang mengira bahwa tokoh-tokoh besar dalam sains, yang namanya sudah begitu lumrahnya didengar dan diperbincangkan manusia generasi setelah mereka, tak hanya punya teori sains, tapi juga punya sejarah panjang tentang perselisihan dan pertentangan.

L. Wilardjo memulainya dengan koreksi Bertrand Russell terhadap aksioma yang Gottlob  Frege tuangkan dalam buku “Hukum-Hukum Dasar Aritmetika” karyanya. Lalu debat sains antara Niels Bohr dan Albert Einstein. Belum lagi ‘permusuhan’ antara Isaac Newton dan Robert Hooke (yang juga merembet ke ranah pribadi). Jika ingin menggunakan istilah masa kini, yang terjadi antara tokoh-tokoh  besar sains tadi sangatlah ‘seru’.

Marilah kita tidak berpanjang kata lagi dan mengawali bacaan dengan kutipan dari Prof. Dr. Satjipto Rahardjo, SH, M.A., (alm.), guru besar dan tokoh Hukum Progresif di Undip, yang mengatakan bahwa, “Ilmuwan boleh salah, asalkan tidak bohong, sedangkan politikawan boleh bohong, tetapi tidak boleh salah.” (selanjutnya)

Kebermanfaatan Matematika: Berkat dan Kutukan

Lebih dari 4 abad yang lalu, Galileo menyatakan bahwa filsafat atau ilmu pengetahuan bersumber dari sebuah buku adiagung, yaitu semesta ini.  Lalu ada Max Tegmark, salah satu pakar fisika, yang melanjutkan dan malah mengembangkan gagasan radikal Galileo itu.  Tegmark berpendapat bahwa semesta ini memang sebuah matematika, atau tepatnya sebuah struktur matematika. Maksudnya, Matematika dengan luar biasa tepatnya menjelaskan fenomena alam semesta ini.

Hal ini terkesan menakutkan: matematika tampak semakin merasuk ke dalam berbagai aspek kehidupan kita. Hal yang menakutkan tentu menimbulkan ketakutan pada orang awam. Matematika dipandang negatif, mekanistis, dingin, prosedural, tanpa melibatkan rasa, dan hanya dipandang aspek kebermanfaatannya saja. Belum lagi dengan adanya alasan mempelajari Matematika karena ‘akan diujikan di UN’: siswa belajar Matematika hanya karena wajib, bukan karena dorongan ketertarikan alami dari siswa terhadap Matematika. Hal-hal tersebut membuat gambaran orang tentang Matematika semakin mengabur.

Pak Iwan Pranoto sang penulis menguraikan satu-persatu dengan apik, bagaimana mestinya kita memandang Matematika. Mulai dari definisi Matematika di KBBI sebagai kata benda  yang sudah tidak benar-benar sesuai untuk masa sekarang, hingga rasa berakal yang semestinya dialami ketika memahami keindahan matematika, dalam tulisan ini.